Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Adakah Gharar pada Asuransi Syariah?

Gambar

Oleh: Puarman

Dalam kaidah fiqh ibadah semua bentuk ibadah dilarang, kecuali yg diizinkan.

Sebaliknya dalam bermuamalah semua bentuk muamalah  diizinkankan kecuali yang dilarang, termasuk diantaranya muamalah ekonomi.
Kemudian apa saja yg dilarang dalam bermuamalah..?
Diantara yang dilarang adalah:
1. Riba
“…Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al-Baqarah,2:275)

2. Kezaliman (zhulm)
Dalam sebuah hadis qudsiy Allah berfirman: “Wahai hamba-hambaKu! Sesungguhnya  Aku telah mengharamkan berbuat zhalim atas diriKu dan juga Aku haramkan kezhaliman sesama kalian, maka janganlah kalian saling berbuat zhalim”. (HR.Muslim)

3. Gharar (ketidakjelasan)
Menurut istilah para ahli fiqh, gharar berarti: jual beli yang tidak jelas kesudahannya.
Misalnya:
Penjual berkata: “Aku jual barang yang ada di dalam kotak Ini kepadamu dgn harga Rp.100.000”.
Penjual tidak menjelaskan isi kotak dan pembeli pun tidak tahu fisik barang yang berada di dalam kotak. [1]
Disini ada unsur untung-rugi (spekulasi). Gharar  termasuk atau hampir semakna dengan maysir (judi/ untung-untungan).

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji (yang) termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.
(QS.Al Maa’idah, 5:90)

Diceritakan oleh Abu Hurayrah.
Dia berkata: Rasulullah SAW melarang jual beli (dengan cara lempar) batu kerikil dan jual beli (yang mengandung unsur) gharar.

Alhamdulillah asuransi syariah sudah terbebas dari  unsur-unsur larangan  diatas.
Asuransi syariah menggunakan akad hibah (tabarru’) antar sesama  peserta dan memakai  akad wakalah bil ujrah antara peserta dengan perusahaan.

Gharar Dalam Akad Hibah

Kemudian pernah ada yg mengatakan bahwa dalam asuransi syariah pun terdapat gharar (ketidakjelasan) krn peserta tidak tahu kapan dan siapa yg akan mendapatkan manfaat dari dana tabarru’ yg dikumpulkan.

Ada 2 jawabannya:

1.Sebenarnya pernyatan ini tdk relevan lagi krn status dana tabarru’ adalah hibah (sedekah). Setelah dihibahkan, ikhlaskan saja kapan dan siapa yg memanfaatkannya.

2.Menurut ahli fiqh, gharar dibolehkan pada akad hibah, sedekah dan wasiat.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak satu Dinarpun dari harta warisanku dibagi. Seluruh harta yang kutinggalkan setelah dikeluarkan nafkah isteri-isteriku serta gaji pekerja yg mengurus, maka harta warisanku aku sedekahkan”

Jumlah sedekah yg diberikan Nabi SAW tidak jelas (termasuk gharar), karena nafkah istri dan gaji pekerja tidak diperkirakan saat Nabi SAW berwasiat, mungkin naik harganya mungkin juga turun setelah Nabi SAW wafat. Ini berdampak terhadap tidak jelasnya jumlah sedekah Nabi SAW.

Dengan demikian, gharar yg terdapat pada akad hibah, sedekah dan wasiat tidak mempengaruhi keabsahan akad [2] dan ini diperbolehkan.

[1] DR.Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer
[2] Idem

Puarman
Perencana Keuangan Syariah

hp.0856 8809 666

Advertisements

Mencari Keberkahan Dalam Berinvestasi Syariah


Suatu hari Anda mendatangi sebuah minimarket untuk membeli minuman dingin. Kebetulan persediaan minuman di minimarket tersebut sangat terbatas karena mereka sedang menunggu suplai barang datang.

Minuman yang tersedia hanya ada 2 pilihan:

A. Minuman Bir dengan harga promosi hanya Rp.10.000 per botol

B. Air Mineral dengan harga Rp.25.000 per botol

Pertanyaannya, sebagai seorang muslim, anda mau pilih yang mana?

Jika anda memilih A, maka anda “beruntung” karena berkesempatan mendapatkan Bir dengan harga murah. Tapi seperti kita ketahui, seorang muslim HARAM hukumnya minum Bir.

Jika Anda memilih B, maka Anda akan “rugi” karena walaupun air mineral HALAL tapi harganya kemahalan.

Dalam posisi dilematis seperti ini Setan mulai merayu Anda dan berbisik kepada Anda agar memilih Bir saja, mumpung harganya lagi murah..!
Sebaliknya Iman Anda akan mengatakan bahwa Bir itu HARAM dan sebaiknya anda membeli Air Mineral yang sudah pasti HALAL walaupun harganya lebih mahal.
Analogi diatas banyak terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya saat kita dihadapkan pada pilihan antara:

1. Bank Syariah atau Bank Konvensional (ribawi)

2. Asuransi Syariah atau Asuransi Konvensional

3. Investasi Syariah atau Investasi Konvensional (ribawi).

Jika kita hanya mengedepankan aspek keuntungan finansial atau materialisme saja, memang pilihan Investasinya sedikit lebih banyak dibanding pilihan investasi yang sesuai syariah. Karena dalam syariah ada batasan-batasan investasi yang dilarang oleh agama, seperti bank berbasis bunga, pembiayaan ribawi, pabrik rokok, pabrik minuman keras, investasi di tempat hiburan malam, perdagangan barang atau jasa yang haram zatnya (haram li-dzatihi), dll

Hal ini juga bisa kita lihat di Bursa Efek Jakarta, dari total 443 emiten, hanya 214 emiten yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah.

Walaupun jumlah efek syariah baru 50% dari pilihan yang ada, namun ini patut kita syukuri karena sudah tersedianya cukup banyak pilihan untuk berinvestasi syariah dalam rangka mencari rezeki yang berkah.

Contoh tempat Investasi yang sesuai syariah:

  • Saham Syariah
  • Obligasi Syariah (Sukuk)
  • Unit Link Syariah
  • Reksadana Syariah
  • Perbankan Syariah
  • Emas
  • Dll

Dengan beragamnya pilihan investasi yang sesuai syariah, rasanya tidak ada alasan lagi untuk tidak segera beralih dari jalur Ribawi ke jalur Halal.

Menurut Perencana Keuangan Syariah Ahmad Gozali, prinsip utama seorang muslim dalam berinvestasi adalah:

  1. Halal: Produk investasinya haruslah yang halal, karena rezeki yang boleh dimakan adalah yang Halal dan Baik
  2. Berkah: Investasi yang dilakukan harus bisa membawa keberkahan, baik untuk investor maupun untuk masyarakat
  3. Bertambah: artinya menguntungkan

Sebagai penutup saya mengutip Statemen Bp.Fadjar Hutomo, ST.MMT, CFP, AEPP, QWP, beliau Direktur Utama A Venture Capital Company.

Inilah konsep beliau tentang Keberkahan:

“Berbicara keuangan syariah seharusnya tidak melulu mengedepankan aspek keuntungan finansial atau materialisme.
Keputusan untuk berhijrah dari keuangan ribawi ke keuangan syariah seharusnya tidak didasari pada pertimbangan kuantitatif.
Seharusnya lebih didasarkan pada aspek keimanan dan ketakwaan, niat untuk membersihkan harta yang akan dinafkahkan bagi keluarga.

Kalaupun ingin mempertimbangkan faktor keuntungan atau manfaat, ingatlah hadits ini :

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.’ (HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Inilah konsep keberkahan. Konsep ekonomi kapitalis/ribawi adalah konsep mencari keuntungan sebesar2nya.
Konsep ekonomi syariah adalah konsep mencari keberkahan sebesar2nya.

Mampukah kalkulator anda mengkuantifikasi keberkahan dari Allah SWT ? Ingatlah bahwa sebaik2 rizki adalah rizki karena ketakwaan kepada Allah”.

wallahu alam wa bishowab

Puarman

puarman@yahoo.com

0856 8809 666

Pin: 26A1D5BB

Rp.9 Miliar Klaim Dibayar Tiap Hari

Kompas 17 Oktober 2011, halaman 19

Tahun 2010:

Setiap hari Prudential membayar klaim & manfaat nasabah Rp.9 MILIAR

Tiap 90 detik, Prudential membayar 1 klaim

Rasio modal berbasis resiko (Risk Based Capital) Prudential 766 persen, jauh melampaui persyaratan minimal Kementrian Keuangan Indonesia 120 persen

Efek Psikologis Punya Asuransi

Ada 6 Perbedaan Bagi Orang Yang Punya Asuransi (Kesehatan & Jiwa)
Untuk Yang Punya Asuransi:
  1. Jika dokter menganjurkan perawatan, langsung pasien mau dirawat.
  2. Tidak pernah memikirkan harga obat.
  3. Tidak selalu cek biaya setiap hari. Pasien ini seperti Turis Asing yang jika naik taxi selalu melihat pemandangan menunggu kesembuhan
  4. Penyakit tidak menjadi fatal karena dirawat sebelum parah, bahkan pulang ke rumah pun sesuai anjuran dokter.
  5. RS lebih mengutamakan pasien yang punya asuransi karena point lebih dari angka 1 sampai 3.
  6. Waktu pasien ini meninggal, lebih-lebih kalau dia sebagai Kepala Keluarga, mereka meninggal pun dengan tenang karena ada PIHAK ASURANSI YANG MENGCOVER DAN ADA SURAT CINTA DARI ASURANSI UNTUK KELUARGA YANG DITINGGALKAN.                                                                                                                                                            

Sedangkan  Untuk Orang Yang Tidak Punya Asuransi:

  1. Kalau dokter menganjurkan perawatan, dengan segala cara meminta dirawat di rumah karena faktor biaya walaupun pasien orang yang menengah
  2. Pasien sering meminta pada dokter untuk membuka resep dengan GENERIK
  3. Setiap hari melihat biaya RS, persis seperti turis Domestik naik taxi yang selalu melihat ARGOMETER
  4. Sering jadi FATAL karena terlambat masuk RS atau kabur sebelum sembuh sesudah lihat biaya yang membengkak.
  5. RS sering tidak mengutamakan pasien yang tidak punya Asuransi.
  6. Sewaktu Pasien/Client meninggal dengan mata membelalak karena mengintip KWITANSI yang HARUS DIBAYAR KELUARGA & KELUARGA YANG DITINGGALKAN SANGAT MENYESAL KARENA BELUM ADA SURAT CINTA UNTUK KELUARGA DARI ASURANSI.                                         

Mengapa Berasuransi Syariah..?

Menurut Dewan Syariah Nasional, definisi ASURANSI SYARIAH (Ta’min, Takaful atau Tadhamun)  adalah usaha untuk saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Asuransi Syariah adalah sebuah sistem dimana para peserta meng-infaq-kan/menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian peserta. Peranan perusahaan disini hanya sebatas pengelolaan operasional perusahaan asuransi serta investasi dari dana-dana/kontribusi yang diterima/dilimpahkan kepada perusahaan.

Asuransi syari’ah disebut juga dengan asuransi ta’awun yang artinya tolong menolong atau saling membantu . Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Asuransi ta’awun prinsip dasarnya adalah dasar syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2, yang artinya :

“Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”

Mangapa harus Asuransi Syariah?

Asuransi yang selama ini digunakan oleh mayoritas masyarakat (konvensional) bukan merupakan asuransi yang dikenal oleh para pendahulu dari kalangan ahli fiqh, karena tidak termasuk transaksi yang dikenal oleh fiqh Islam, dan tidak pula dari kalangan para sahabat yang membahas hukimnya.

Terjadi perbedaan pendapat ulama tentang asuransi konvensional yang disebabkan oleh perbedaan ilmu dan ijtihad mereka. Alasannya antara lain :

1. Pada transaksi asuransi tersebut terdapat jahalah (ketidaktahuan) dan ghoror (ketidakpastian), dimana tidak diketahui siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau kerugian pada saat berakhirnya periode asuransi.

2. Di dalamnya terdapat riba atau syubhat riba. Hal ini akan lebih jelas dalam asuransi jiwa, dimana seseorang yang memberi polis asuransi membayar sejumlah kecil dana/premi dengan harapan mendapatkan uang yang lebih banyak dimasa yang akan datang, namun bisa saja dia tidak mendapatkannya. Jadi pada hakekatnya transaksi ini adalah tukar menukar uang, dan dengan adanya tambahan dari uang yang dibayarkan, maka ini jelas mengandung unsur riba, baik riba fadl dan riba nasi’ah.

3. Asuransi ini termasuk jenis perjudian, karena salah satu pihak membayar sedikit harta untuk mendapatkan harta yang lebih banyak dengan cara untung-untungan atau tanpa pekerjaan. Jika terjadi kecelakaan ia berhak mendapatkan semua harta yang dijanjikan, tapi jika tidak maka ia tidak akan mendapatkan apapun.

Melihat ketiga hal di atas, dapat dikatakan bahwa transaksi dalam asuransi konvensional, belum sesuai dengan transaksi yang dikenal dalam fiqh Islam. Asuransi syari’ah dengan prinsip ta’awunnya, dapat diterima oleh masyarakat dan berkembang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir ini.

Asuransi syariah dengan perjanjian di awal yang jelas dan transparan serta  aqad yang sesuai syariah, dimana dana-dana dan premi asuransi yang terkumpul (disebut juga dengan dana tabarru’) akan dikelola secara profesional oleh perusahaan asuransi syariah melalui investasi syar’i dengan berlandaskan prinsip syariah.

Dan pada akhirnya semua dana yang dikelola tersebut (dana tabarru’) nantinya akan dipergunakan untuk menghadapi dan mengantisipasi terjadinya musibah/bencana/klaim yang terjadi diantara peserta asuransi. Melalui asuransi syari’ah, kita mempersiapkan diri secara finansial dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip transaksi yang sesuai dengan fiqh Islam. Jadi tidak ada keraguan untuk berasuransi syari’ah.

(Sumber: Majalah ReInfokus April 2006)

Asuransi yang Dibolehkan

KONSULTASI

Syariah dan Kehidupan
bersama Ahmad Sarwat, Lc
Pertanyaan
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ustaz Ahmad Sarwat yang dirahmati Allah swt,
Saya berkeinginan untuk mengambil asuransi jiwa, asuransi kesehatan maupun asuransi kerugian. Yang ingin saya tanyakan, asuransi yang seperti apakah yang dibolehkan dalam Islam?

Mohon penjelasannya.
Wassalam

Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Meski sudah memasyarakat dan lazim digunakan orang di seluruh dunia, namun kalau kita mau jujur dengan hati nurani, sebenarnya ada banyak kelemahan dalam asuransi yang kita kenal. Di antaranya adalah:
a. Asuransi Mengandung Unsur-unsur Tidak Pasti
Ketidakpastian yang dimaksud adalah antara peserta dengan perusahaan sama-sama tidak tahu, berapa yang harus dikeluarkan dan berapa yang akan didapat. Bisa jadi seorang peserta asuransi berharap akan bisa mendapat banyak dari klaim, tapi bisa juga tidak mendapat apa-apa.
Akad ini berarti mengandung jahalah yang diharamkan dalam agama. Di mana penjual dengan pembeli sama-sama tidak tahu keuntungan dan kerugian masing-masing. Karena masih sangat bergantung dengan banyak kejaidan.
b. Premi Diputar dalam Investasi dengan Sistem Ribawi
Perusahaan asuransi konvensional membenamkan dananya dengan sistem ribawi. Uang premi yang terkumpul dari peserta akan diinvestasikan dengan cara haram. Karena itu hasilnya pun merupakan uang riba yang haram juga.
Bila peserta asuransi mengajukan klaim, tentu saja uang hasil klaim itu bersumber dari investasi ribawi.

c. Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai
d. Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis, dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah
Sehingga dengan segala kekurangan ini, banyak ulama yang mengharamkan kesertaan kita dalam perusahaan asuransi konvensional. Sebab asuransi yang begini lebih dekat kepada sebuah perjudian.

Sebagai alternatif dan solusi yang jitu, cerdas dan sesuai syariah, sebaiknya kita mengikuti program asuransi yang resmi menggunakan sistem syariah. Sebab asuransi syariah ini sudah dikaji secara mendalam oleh para ulama, baik di tingkat nasional maupun internasional, serta sudah difatwakan kehalalannya.
Asuransi syariah memiliki beberapa ciri utama:
1. Akad asuransi syari’ah adalah bersifat tabarru’, sehingga tidak mengenal premi melainkan infaq atau sumbangan. Dan sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali.
Atau jika tidak tabarru’, maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa, atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan tidak lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba.
2. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan, dan kalau ada imbalan, sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama’ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama).

3. Akad asuransi syari’ah bersih dari gharar dan riba. Sebab perusahaan asuransi diharamkan berinvestasi dengan cara konvensonal yang ribawi. Hanya boleh menggunakan sistem syariah, yaitu bagi hasil.
Selain itu jenis usahanya pun harus dipilih yang halal, tidak boleh misalnya untuk pabrik minuman keras, rokok, usah hiburan maksiat dan sebagainya.
4. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental.
Dan dari segi keuntungan duniawi maupun ukhrawi, asuransi syariah memiliki keunggulan. Antara lain:
a. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Di mana nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).
b. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.
c. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.
d. Bila ada peserta yang terkena musibah, untuk pembayaran klaim nasabah dana diambilkan dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.
e. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.
f. Adanya Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah yang merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional


Ada beberapa perbedaan mendasar antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional.
Perbedaan tersebut adalah:
  1. Asuransi syari’ah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas mengawasi produk yang dipasarkan dan pengelolaan investasi dananya. Dewan Pengawas Syariah ini tidak ditemukan dalam asuransi konvensional.
  2. Akad yang dilaksanakan pada asuransi syari’ah berdasarkan tolong menolong. Sedangkan asuransi konvensional berdasarkan jual beli
  3. Investasi dana pada asuransi syari’ah berdasarkan Wakallah bil Ujrah dan terbebas dari Riba. Sedangkan pada asuransi konvensional memakai bunga (riba) sebagai bagian penempatan investasinya
  4. Kepemilikan dana pada asuransi syari’ah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Pada asuransi konvensional, dana yang terkumpul dari nasabah (premi) menjadi milik perusahaan. Sehingga, perusahaan bebas menentukan alokasi investasinya.
  5. Pembayaran klaim pada asuransi syari’ah diambil dari dana tabarru’ (dana kebajikan) seluruh peserta yang sejak awal telah diikhlaskan bahwa ada penyisihan dana yang akan dipakai sebagai dana tolong menolong di antara peserta bila terjadi musibah. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan.
  6. Pembagian keuntungan pada asuransi syari’ah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan. Sedangkan pada asuransi konvensional seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan.